kesenian tarawangsa

Kesenian Tarawangsa

kesenian tarawangsa

MyBdg.com – Kesenian Tarawangsa – Kesenian daerah biasanya sudah ada sejak berabad-abad lalu dan sebagian masih ada yang dikenal hingga saat ini, namun ada juga yang tergeserkan oleh kesenian yang lebih modern sesuai berkembangnya zaman. Namun kita sebagai warga Sunda harus lebih melestarikan lagi kesenian khas Sunda dengan mempelajari dan mengingat bahwa kesenian yang sudah ada sejak berabad-abad lalu pernah menjadi pedoman awal munculnya kesenian di kala itu. Seperti halnya kesenian Tarawangsa.

Tarawangsa merupakan salah satu jenis kesenian rakyat yang ada di Jawa Barat. Istilah ‘Tarawangsa’ sendiri memiliki dua pengertian yaitu alat musik gesek yang memiliki dua dawai yang terbuat dari kawat baja atau besi dan nama dari salah satu jenis musik tradisional Sunda.

Kesenian tarawangsa lebih tua keberadaannya dibanding rebab, alat gesek yang lain. Naskah kuno Sewaka Darma dari awal abad ke-18 telah menyebut bahwa nama tarawangsa sebagai nama alat musik. Rebab muncul di tanah Jawa setelah zaman Islam sekitar abad ke 15-16, yang merupakan adaptasi dari alat gesek bangsa Arab yang dibawa oleh para penyebar Islam dari tanah Arab dan India. Tarawangsa itu juga biasanya disebut dengan nama rebab jangkung (rebab tinggi), karena ukuran tarawangsa lebih tinggi dibandingkan rebab.

Tarawangsa di mainkan dengan cara di gesek dan di petik dengan jari telunjuk tangan kiri. Tarawangsa juga merupakan sebuah ensambel kecil yang terdiri dari sebuah tarawangsa dan alat petik tujuh dawai yang menyerupai kecapi, yang disebut dengan nama Jentreng.

Kesenian ini hanya dapat ditemukan di beberapa wilayah tertentu di Jawa Barat, seperti daerah Rancakalong di Sumedang, Cibalong, Cipatujah di Tasikmalaya, Banjaran (Bandung) dan Kanekes di Banten Selatan.

Pemain Tarawangsa hanya terdiri dari dua orang, yaitu satu orang pemain tarawangsa dan satu orang pemain jentreng. Semua pemain tarawangsa terdiri dari laki-laki dan biasanya berusia rata-rata 50-60 tahunan. Mereka semuanya berprofesi sebagai petani dan biasanya disajikan berkaitan dengan upacara padi, misalnya ngalaksa yang berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah. Dalam pertunjukan kesenian ini juga melibatkan penari laki-laki dan perempuan. Mereka bertugas ngalungsurkeun (menurunkan) Dewi Sri dan para leluhur.

Tarian kesenian tarawangsa tidak terikat oleh aturan-aturan pokok, kecuali gerakan khusus yang dilakukan Saehu (laki-laki) dan penari perempuan yang merupakan simbol penghormatan bagi dewi padi. Dalan tarian ini juga sudah tidak heran jika para penari sering mengalami trance (tidak sadarkan diri).

Meskipun nama kesenian tarawangsa ini mungkin tidak banyak diketahui oleh masyarakat saat ini, namun kesenian ini masih dilakukan di beberapa wilayah tertentu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>